Mari beri sokongan

23.2.15

Apakah Dajjal itu Manusia?

 Apakah Dajjal sudah muncul? Dimana Lokasi Pulau tempat Dajjal berada?| Sejarah Dajjal, 70.000 Yahudi Iran Pengikut Dajjal, Kemampuan Dajjal | Dajjal berambut keriting dan kusut masai, buta matanya yang kanan, matanya seperti anggur yang menonjol, tulisan kaf-fa-ra diantara kedua matanya.
Sifat-sifat Dajjal

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak )

Keluarnya Dajjal merupakan satu perkara yang pasti. Dajjal akan berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga orang yang beriman semestinya mengetahui sifat serta fitnah-fitnah Dajjal agar terhindar dari kesesatannya.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menerangkan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyifati Dajjal dengan penjelasan yang gamblang bagi orang yang punya hati. Sifat-sifat tersebut semuanya jelek, yang nampak jelas bagi orang yang mempunyai indera yang sehat. Namun orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan akan celaka tetap mengikuti Dajjal dalam pengakuannya yang dusta dan dungu, serta diharamkan untuk mengikuti al-haq….”


Apakah Dajjal itu Manusia?

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Ya. Dajjal adalah manusia dari bani Adam. Sebagian para ulama menyatakan Dajjal adalah setan. Sebagian lagi menyatakan bapaknya manusia, ibunya dari bangsa jin. Tapi semua pendapat ini tidaklah benar. Karena dia butuh makan, minum, dan lainnya. Oleh karena itu, Nabi ‘Isa ‘alaihissalam membunuhnya dengan cara membunuh manusia biasa.” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/275)

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Hadits-hadits ini adalah hujjah bagi Ahlus Sunnah akan benarnya keberadaan Dajjal, bahwa Dajjal adalah satu sosok tubuh yang merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dia kemampuan melakukan beberapa hal, seperti menghidupkan orang mati yang ia bunuh, memunculkan kesuburan, membawa sungai, surga dan neraka, perbendaharaan bumi mengikuti dirinya, memerintahkan langit untuk hujan maka turunlah hujan, memerintahkan bumi untuk menumbuhkan maka tumbuhlah tanaman-tanaman. Itu semua terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah itu, ia tak mampu melakukannya, tidak mampu membunuh seorang laki-laki (yang sebelumnya dibunuh kemudian dihidupkan kembali olehnya) ataupun lainnya….”

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “(Yang benar) Dajjal adalah manusia. Fitnahnya lebih besar dari (sekedar) fitnah Eropa sebagaimana banyak diterangkan dalam banyak hadits.” (Ash-Shahihah, 3/191)


Dakwah Dajjal

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Telah disebutkan, awal mula ia keluar menyeru kepada Islam, mengaku sebagai muslim. Kemudian mengaku sebagai nabi, setelah itu mengaku sebagai ilah.” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/268, lihat Qishshatu Dajjal wa Nuzul ‘Isa karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)
Sifat-sifat dan Bentuk Fisiknya

1. Seorang pemuda yang berambut keriting dan kusut masai.

Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِئَةٌ كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ

“Dia adalah seorang pemuda yang sangat keriting rambutnya, hilang cahaya matanya, seakan-akan aku menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim: 2937)

Dalam riwayat lain: “Rambutnya kusut.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمُ الْكَذَّابَ الْمُضِلَّ وَإِنَّ رَأْسَهُ مِنْ بَعْدِهِ حُبُكٌ حُبُكٌ حُبُكٌ -ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- وَإِنَّهُ سَيَقُوْلُ: أَنَا رَبُّكُمْ؛ فَمَنْ قَالَ: لَسْتَ رَبَّنَا لَكِنَّ رَبَّنَا اللهُ عَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْهِ أَنَبْنَا نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكَ؛ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سُلْطَانٌ

“Nanti akan ada pendusta yang menyesatkan, rambut di belakangnya hubukun (keriting seperti terjalin/dipintal) –beliau ucapkan tiga kali–. Dia akan berkata: ‘Aku adalah Rabb kalian’. Barangsiapa yang berkata: ‘Engkau bukan Rabb kami. Rabb kami adalah Allah, kepada-Nyalah kami bertawakal dan kepada-Nyalah kami kembali. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatanmu’, niscaya Dajjal tak mampu mengalahkannya.” (Ash-Shahihah no. 2808)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Hadits ini merupakan dalil yang tegas bahwa Dajjal akbar (terbesar) adalah manusia yang punya kepala dan rambut. Bukan sesuatu yang maknawi atau kiasan dari kerusakan, sebagaimana ucapan orang-orang yang lemah imannya….” (Silsilah Ahadits Shahihah, 6/2, pada penjelasan hadits no. 2808)

    Berita tentang munculnya Dajjal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang wajib diimani dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dengan terang dan jelas yang tidak butuh penakwilan apapun, di antaranya:
    1. Dia dari Bani Adam
    2. Laki-laki
    3. Pemuda
    4. Pendek
    5.  Berkulit merah
    6. Keriting rambutnya
    7. Dahinya lebar
    8. Lehernya lebar
    9. Matanya buta sebelah kanan
    10.Tertulis di antara dua matanya ك ف ر (yang bermakna kafir)
    11.Tidak berketurunan
    12.Pada matanya sebelah kiri terdapat daging tumbuh.
    Sifat-sifat di atas disebutkan di dalam banyak hadits baik dalam Ash-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) atau selain keduanya.

2. Matanya

Dia adalah seorang yang buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah demikian. Masalah ini diriwayatkan dalam hadits yang mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh orang sahabat. Di antaranya:

– Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنْ سَأَقُوْلُ لَكُمْ فِيْهِ قَوْلاً لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ، تَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

Rasulullah berdiri di hadapan manusia, menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sanjungan yang merupakan hak-Nya, kemudian menyebut Dajjal dan berkata: “Aku memperingatkan kalian darinya, tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada kaumnya. Ketahuilah dia itu buta sebelah, adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim no. 2930)

– Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ

“Sesungguhnya Dajjal buta matanya yang kanan, matanya seperti anggur yang menonjol.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2932)

– Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا عَنْ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ؛ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّهُ يَجِيْءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَالَّتِي يَقُوْلُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ وَإِنِّي أُنْذِرُكُمْ كَمَا أَنْذَرَ بِهِ نُوْحٌ قَوْمَهُ

“Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal yang telah disampaikan oleh seorang nabi kepada kaumnya? Dia buta sebelah, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada hakikatnya adalah neraka, aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam memperingatkan kaumnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2936)

Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

هُوَ أَعْوَرُ هِجَانٌ كَأَنَّ رَأْسَهُ أَصَلَةٌ، أَشْبَهُ رِجَالِكُمْ بِهِ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ قَطَنٍ فَإِمَّا هَلَكَ الْهُلَّكُ فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

“Dajjal matanya buta sebelah, kulitnya putih.” (Dalam satu riwayat): “Kulitnya putih seperti keledai putih. Kepalanya kecil dan banyak gerak, mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Jika ada orang-orang yang binasa (mengikuti fitnahnya), ketahuilah Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Sanadnya shahih menurut syarat Muslim, Ash-Shahihah, no. 1193)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Hadits ini menunjukkan Dajjal akbar adalah manusia yang mempunyai sifat seperti manusia. Apalagi Rasulullah menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan, seorang shahabat. Hadits ini satu dari sekian banyak dalil yang membatilkan takwil sebagian orang yang menyatakan Dajjal bukanlah sosok fisik, tapi rumuz (simbol) kemajuan Eropa berikut kemegahan serta fitnahnya. (Yang haq) Dajjal adalah manusia, fitnahnya lebih besar dari fitnah Eropa sebagaimana banyak diterangkan dalam banyak hadits.” (Ash-Shahihah, 3/191)

22.2.15

Apa itu CHI…?


 Dalam pengubatan cina, akupunktur, repleksi kita sering mendengar tentang Chi (Qi). Chi dalam bahasa Tionghoa adalah aliran energi. Aliran chi atau aliran energi dalah tenaga dari alam dan tubuh kita yang menyatu.

Energi Chi mengalir di dalam tubuh dengan cara yang sama seperti darah. Disepanjang pusat tubuh terdapat tujuh pemusatan energi yang disebut chakra yang mirip dengan organ besar tempat darah berkumpul. Energi yang menyebar dari chakra ada 14 jalur energi chi yang disebut meridian. Ke-14 jalur energi itu mengalir melalui tangan, lengan, torso dan kepala. Seperti aliran darah dan kapiler, mereka membawa energi chi ke saluran-saluran yang lebih kecil sampai setiap sel terisi dengan darah dan energi chi.



Energi Chi berfungsi untuk :
1. Mengaktifkan, menggerakkan, untuk tumbuh kembang dan aktifitas jaringan organ, meridian, sirkulasi cairan darah dan hasil dari metabolisme.
2. Melindungi dan memperkuat sistem imunisasi tubuh, sehingga tubuh menjadi tahan terhadap serangan penyebab penyakit luar dan penyakit dari dalam dan mengusir penyakit tersebut.
3. Menghangatkan dan mengatur panas tubuh
4. Mengontrol dan mengendalikan darah, urin, air liur, enzim dan hasil pembuangan sehingga mereka berjalan pada tempatnya dalam jumlah tertentu yang seimbang.

Aliran Chi juga dapat membangkitkan tenaga dalam, yang bertujuan antara lain sbb :

1. Untuk kesehatan mental dan fisik.
2. Untuk bela diri
3. Tenaga fisik menjadi jauh lebih kuat apabila tenaga dalam sudah mencapai tingkat tertentu. Apabila dengan tenaga fisik biasa seseorang hanya mampu mengangkat beban 50kg, dengan dibantu penyaluran tenaga dalam maka orang tersebut dapat mengankat beban yang lebih berat dari itu.
4. Untuk mempertajam panca indera. Kelima panca indera mulai dari penglihatan, pendengaran, penciuman, indera peraba dan perasa menjadi lebih peka pada lingkungan tertentu.
5. Untuk membangkitkan indera keenam.Indera keenam atau Extra Sensory Perception ( ESP ) bila sudah bangkit maka firasat seseorang akan menjadi tajam dan bisa mengetahui adanya bahaya sebelum terjadi.
6. Untuk  pertunjukan atau atraksi menghancurkan benda-benda keras. Target kesanggupan memecahkan benda keras tersebut tergantung dari tingkat tenaga dalam yang dikuasai. Makin tinggi tenaga dalam yang dikuasai seseorang, makin besar daya hancur sasarannya.
7. Untuk meringankan tubuh
8. Untuk memperkuat memori otak
9. Untuk perawatan dan penyembuhan penyakit yang tidak dirawat oleh ilmu kedokteran modern
10. Untuk mendeteksi penyakit jarak dekat dan jarak tak terbatas, bisa untuk membantu kalangan medis yang tidak dapat menemukan penyakit seseorang. Dengan menggunakan pendeteksian tenaga dalam tanpa disentuh, dapat menemukan kelainan fungsi bagian tubuh untuk pemeriksaan ulang dilaboratorium.

Lukman Hakim Setiawan, seorang guru kungfu dan praktisi pengobatan tradisional cina dalam bukunya yang berjudul “Keajaiban Sholat Menurut Ilmu Kesehatan Cina” menjelaskan bagaimana aliran energi chi ( energi dasar ) ketika sholat, serta bagaimana pengaruh waktu-waktu sholat fardhu terhadap sirkulasi energi Chi.



Menurut para tabib cina, seluruh organ internal manusia terkait dan terhubung dengan chi ( energi ). dan mekanisme serta fungsi semua organ internal itu saling mempengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, jika sirkulasi chi di dalam tubuh tidak lancar maka akan terjadi kemerosotan kondisi fisik atau salah satu bagian tubuh tidak berfungsi (malfungsi)

Tubuh manusia terdiri dari rangkaian tulang, daging, otot-otot, serabut-serabut, organ-organ dan kulit yang menjaga bentuk. Kulit merupakan bagian yang bersinggungan dengan dunia luar sehingga sangat rentan terhadap luka yang diakibatkan oleh berbagai sebab.

Praktek Wudhu sangat erat kaitannya dengan kulit, menurut ilmu kesehatan cina praktek wudhu dapat mengalirkan energi ke kulit untuk memperlancar peredaran darah dan menjaga kepekaan saraf kulit. Selain itu, air yang meresap melalui pori-pori kulit akan membantu membersihkan bagian-bagian kulit dari kotoran. Wudhu juga meresapkan molekul-molekul air yang bersinggungan langsung dengan organ-organ internal tubuh manusia, sehingga menyebabkan badan segar kembali.

Yang lebih mengagumkan lagi adalah secara tidak sadar pada saat berwudhu kita telah merangsang simpul-simpul saraf yang berhubungan dengan bagian internal tubuh pada saat penggosokan dan penekanan pada lapisan kulit sehingga memperlancar aliran chi dalam tubuh kita yang akan berdampak pada kesehatan seseorang.

Posisi berdiri tegak dalam sholat berkorelasi dengan kesehatan, terutama hubungannya dengan ruas-ruas tulang belakang. Pada posisi ini ruas-ruas tulang belakang mengalami penyempurnaan letak sehingga memungkinkan aliran sistem dan pola syaraf yangkembali lancar. Secara teori tulang belakang merupakan pusat syaraf dengan syaraf-syaraf yang menyebar di seluruh bagian tubuh sampai ke otak, anggota badan dan organ-organ  internal. Melalui tulang belakang inilah otak mengontrol tubuh.

Waktu Sholat fardhu ditentukan berdasarkan perubahan posisi matahari terhadap bumi, perubahan ini tentu juga membawa pada perubahan suhu, gelombang elektromagnetik dan lain-lain. Semua perubahan yang terjadi di alam besar ini tentunya berdampak terhadap alam kecil ( tubuh )

Sesuai dengan sirkulasi chi, waktu sholat fardhu adalah waktu yang tepat untuk melakukan terapi organ tubuh :

1. Subuh, yaitu waktu terbit fajar hingga terbit matahari adalah waktu yang tepat untuk terapi paru-paru dan pernafasan. karena pada waktu tersebut udara masih segar dan memberi kesempatan paru-paru membersihkan diri dari sisa-sisa oksigen yang kita hirup pada malam hari.

2. Zuhur, merupakan waktu yang tepat untuk terapi jantung dan usus kecil. Tengah hari merupakan puncak panasnya sistem organ internal manusia. Menurut Ilmu Kesehatan Cina, jantung dan usus kecil merupakan organ yang berpasangan. Kedua organ ini memiliki sifat panas, mengendalikan pembuluh-pembuluh darah.

3. Ashar, adalah waktu yang tepat untuk terapi kandung kemih, karena pada saat tersebut merupakan waktu mulai terjadinya kesesuaian secara perlahan antara hawa tubuh manusia dan hawa sekitarnya.

4. Magrib, waktunya terapi ginjal. Ginjal merupakan reservoir/penampung sifat dingin (Yin) dan sifat panas (Yang) dasar tubuh, ketidakberesan apapun dalam hawa tubuh yang cukup kronis tentu akan melibatkan ginjal dan akhirnya dapat menyebabkan gangguan pada organ-organ lainnya.

5. Isya, waktu yang tepat untuk terapi perikardium dan triple burner (San Jiao)

Dari penjelasan mengenai energi chi, dapat disimpulkan bahwa energi chi memberikan manfaat bagi kehidupan dan kesehatan manusia dan bagu umat muslim dapat dihubungkan dengan pelaksanaan Sholat Lima Waktu yang merupakan petunjuk paling berharga dari Allah SWT.

kredit to Riana Saraswati

12.2.15

Kisah seorang pemuda berdialog dengan seorang Atheis









Soalan Pertama
Atheis: “Pada zaman bilakah Tuhan kamu
dilahirkan?”

Pemuda tersebut tersenyum lalu menjawab:
“Allah Taala tidaklah sesuatu yang dilahirkan.
Jika Dia dilahirkan sudah tentu Dia punya bapa,
Allah juga tidak melahirkan. Jika Dia melahirkan
maka sudah tentu Dia punya anak.”

Soalan Kedua

Atheis: “Kalau begitu, bilakah pula Tuhan kamu
wujud?”

Pemuda itu seraya menjawab: “Allah Taala itu
wujud sebelum adanya zaman, sedangkan zaman
itu sendiri adalah ciptaanNya, mana mungkin
pencipta wujud selepas makhluk ciptaanNya.”

Soalan Ketiga

Atheis: “Cuba kamu berikan kepada kami sedikit
gambaran tentang kewujudan Tuhan kamu yang
tiada permulaan ini. Bagaimana mungkin
sesuatu itu ada tanpa ada permulaannya?”

Pemuda itu menjawab: “Kamu pandai mengira?”
Kelompok Atheis itu menjawab: “Tentu sekali
kami pandai mengira.”
Pemuda itu meneruskan ucapannya: “Bolehkah
kamu beritahu aku apakah nombor sebelum
nombor empat (4)?”

Atheis: “Nombor 3″

Pemuda: “Nombor sebelum 3?”

Atheis: “Nombor 2″

Pemuda: “Nombor sebelum 2?”

Atheis: “Nombor 1″

Pemuda: “Nombor sebelum 1?”

Atheis: “Tiada”

Pemuda itu tersenyum lalu memberikan
penerangan: “Nah, kamu sendiri mengakui
bahawa nombor 1 sebelumnya tiada mulanya.
Nombor yang merupakan ciptaan Allah ini
sendiri kamu akui bahawa tiada permulaan
baginya. Apatah lagi pencipta kepada nombor
itu sendiri?”

Terpinga-pinga kelompok Atheis tersebut dengan
jawapan yang padat dan bernas daripada
pemuda itu. Ternyata mereka silap perkiraan
bila mana berhadapan dengan anak muda ini.
Pada mulanya mereka merasakan bahawa anak
muda ini mudah dikalahkan, namun telahan
mereka ternyata menyeleweng. Mereka perlu
lebih berhati-hati.

Soalan Keempat

Atheis: “Tahniah anak muda di atas jawapanmu
sebentar tadi. Jangan sangka kamu berada di
dalam keadaan yang selesa. Baik, tolong kamu
terangkan kepada kami, pada bahagian manakah
Tuhan kamu mengadap?”

Pemuda itu menjawab: “Jika aku bawa sebuah
pelita yang dicucuh dengan api ke sebuah
tempat yang gelap, pada arah manakah cahaya
pada api tersebut mengadap?”

Kelompok Atheis menjawab: “Cahaya itu tentulah
akan menerangi keseluruhan arah.”

Pemuda itu berkata: “Jika cahaya yang
diciptakanNya itu pun kamu semua tidak mampu
menerangkan pada arah manakah ia mengadap,
inikan pula Sang Pemilik Cahaya langit dan bumi
ini sendiri?”

Kesemua hadirin yang mendengar jawapan
daripada pemuda itu bersorak kegembiraan.
Kagum mereka dengan kepetahan anak muda
itu.

Soalan Kelima

Atheis: “Bolehkah kamu terangkan kepada kami,
bagaimana zat Tuhan kamu? Adakah ianya keras
seperti besi? Atau jenis yang mengalir lembut
seperti air? Atau ianya jenis seperti debu dan
asap?”

Pemuda itu sekali lagi tersenyum. Beliau
menarik nafas panjang lalu menghelanya
perlahan-lahan. Lucu sekali mendengar
persoalan kelompok Atheis ini. Orang ramai
tertunggu-tunggu penuh debaran apakah
jawapan yang akan diberikan oleh pemuda itu.
Pemuda itu menjawab: “Kamu semua tentu
pernah duduk disebelah orang yang sakit hampir
mati bukan?”

Atheis menjawab: “Tentu sekali.”

Pemuda itu meneruskan: “Bila mana orang sakit
tadi mati, bolehkah kamu bercakap dengannya?”
Atheis menjawab: “Bagaimana mungkin kami
bercakap dengan seseorang yang telah mati?”
Pemuda itu meneruskan: “Sebelum dia mati
kamu boleh bercakap-cakap dengannya, namun
selepas dia mati, terus jasadnya tidak bergerak
dan tidak boleh bercakap lagi. Apa yang terjadi
sebenarnya?”

Kelompok Atheis tertawa lalu memberikan
jawapan: “Adakah soalan seperti ini kamu
tanyakan kepada kami wahai anak muda? Tentu
sekali seseorang yang mati itu tidak boleh
bercakap dan bergerak . Ini kerana rohnya telah
terpisah daripada jasadnya.”

Pemuda itu tersenyum mendengar jawapan
mereka lalu berkata: “Baik, kamu mengatakan
bahawa rohnya telah terpisah daripada jasadnya
bukan?

Bolehkah kamu sifatkan kepada aku
sekarang,bagaimanakah bentuk roh tersebut.
Adakah ianya keras seperti besi, atau ianya
mengalir lembut seperti air atau ianya seperti
asap dan debu yang berterbangan?”

Tertunduk kesemua Atheis tersebut bila mana
mendengar persoalan pemuda bijak tersebut.
Ternyata olokan mereka sebentar tadi kembali
tertimpa ke atas mereka.

Kelompok Atheis menjawab dengan keadaan
penuh malu: “Maaf, tentu sekali kami tidak
dapat mengetahui bagaimana bentuknya.”
Pemuda itu lalu meneruskan bicaranya: “Jika
makhluknya seperti roh itu pun kamu tidak
mampu untuk menerangkannya kepada aku,
bagaimana mungkin kamu ingin menyuruh aku
menerangkan bagaimana bentuk Tuhan Pemilik
Roh serta sekalian alam ini?”

Soalan Keenam

Atheis: “Di manakah Tuhan kamu duduk
sekarang?”

Pemuda itu kembali bertanyakan soalan kepada
mereka: “Jika kamu membancuh susu, tentu
sekali kamu mengetahui bahawa di dalam susu
tersebut ada terdapat lemak bukan? Bolehkah
kamu terangkan kepada saya, dimanakah
tempatnya lemak tersebut berada?”

Kelompok Atheis menjawab: “Kami tidak dapat
menerangkan kepadamu dengan tepat
kedudukan lemak di dalam susu tersebut. Ini
kerana lemak itu mengambil keseluruhan
bahagian susu tersebut.”

Pemuda itu seraya berkata: “Kamu sendiri lemah
di dalam memberikan jawapan terhadap
persoalan aku sebentar tadi. Jika lemak di dalam
susu pun tiada tempat yang khusus baginya,
masakan pula kamu ingin mengatakan bahawa
Tuhan Pemilik Arasy itu ada tempat duduk
khusus bagiNya? Sungguh aku pelik dengan
persoalan-persoalan kamu ini.”

Soalan Ketujuh

Atheis: “Kami pelik bagaimana jika masuk ke
dalam syurga ada permulaannya (iaitu selepas
dihisab oleh Allah Taala di padang Mahsyar)
namun bila mana sudah berada di dalamnya
maka tiada lagi pengakhirannya (maksudnya
tiada kesudahannya dan akan selama-lamanya di
dalam syurga)?”

Pemuda itu tersenyum lagi lalu menjawab:
“Mengapa kamu pelik dengan perkara tersebut.
Cuba kamu lihat pada nombor. Ianya bermula
dengan nombor satu bukan? Namun bolehkah
kamu terangkan kepada aku apakah nombor
yang terakhir di dalam senarai nombor?”

Terkelu kelompok Atheis ini untuk memberikan
jawapan. Tentu sekali nombor tiada
kesudahannya. Pemuda itu tersenyum melihat
kelompok Atheis ini terkebil-kebil tidak mampu
memberikan jawapan.

Kemudian beliau menyambung bicaranya: “Nah,
kamu sendiri tidak mampu untuk menerangkan
kepadaku apakah nombor terakhir bukan?
Jawapannya sudah tersedia di hadapan mata
kepala kamu.”

Soalan Kelapan

Atheis: “Kami ingin bertanya lagi, bagaimana
mungkin seseorang di dalam syurga menurut
Nabi kamu tidak akan kencing dan berak.
Sedangkan mereka juga makan dan minum? Ini
adalah perkara yang tidak masuk akal.”

Pemuda itu tenang membetulkan kedudukannya.
Lalu beliau menjawab: “Aku dan kamu
sebelumnya pernah berada di dalam perut ibu
sebelum dilahirkan bukan? Sembilan bulan di
dalam perut ibu, kita juga makan daripada hasil
darah ibu kita. Persoalanku, adakah kamu buang
air kecil dan besar di dalam perut ibumu?

Sedangkan kamu juga makan di dalamnya?”

Sekali lagi kelompok ini terdiam membisu seribu
bahasa. Padat sekali jawapan anak muda ini.

Soalan Kesembilan

Ia soalan terakhir yang ditanyakan oleh
kelompok Atheis tersebut kepada pemuda itu
bila mana mereka telah mati kutu dan sudah
terlampau malu ialah berkenaan: “Jika kamu
terlalu bijak , apakah yang dilakukan oleh
Tuhanmu sekarang?”

Maka pemuda itu menjawab dengan tenang:
“Sebelum aku memberikan jawapan kepadamu,
eloklah kiranya kita bertukar tempat. Ini kerana
kamu berada pada tempat yang tinggi sedang
aku berada di bawah. Jawapan hanya boleh
diberikan bila mana aku berada di atas
mengambil alih tempatmu.”

Kelompok Athies itu lalu bersetuju dengan
cadangan pemuda tersebut, lalu mereka
bertukar tempat.

Pemuda itu naik ke atas, manakala sang Atheis
turun ke bawah.

Bila mana pemuda itu sudah berada di atas,
terus beliau menjawab: “Kamu bertanya
sebentar tadi apakah yang Tuhanku lakukan
sekarang bukan? Jawapannya ialah, Tuhanku
sedang meninggikan yang Haq (dengan
menaikkan pemuda itu ke atas) dan menurunkan
yang Batil (dengan menurunkan kelompok Atheis
tersebut ke bawah).”

Akhirnya mereka mengakui bahawa tiada lagi
persoalan yang ingin ditanyakan malah
kesemuanya telah dipatahkan oleh pemuda itu
dengan penuh hikmah.

Walau sudah hampir ribuan tahun pemuda itu
meninggalkan kita, namun namanya disebut
orang seolah-olah beliau masih hidup di sisi
kita.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...