facebook

facebook

Mari beri sokongan

10.11.13

Budaya Melayu pembina Jatidiri

   

Budaya Melayu adalah budaya yang terbuka. Keterbukaan itulah yang menyebabkan kebudayaan Melayu menjadi majmuk dengan masyarakatnya yang majmuk pula. Kemajmukan inilah sebagai salah satu khazanah budaya Melayu yang tangguh, serta sarat dengan keberagamaan. Kerenanya, orang mengatakan bahwa budaya Melayu bagaikan pelangi atau taman bunga yang penuh warna warni, indah dan memukau. Salah satu khazanah budaya Melayu yang paling sarat dengan nilai-nilai utama sebagai “jatidiri” kemelayuan itu adalah adat istiadatnya atau dikatakan “adat resam”.

 

         Melalui proses keterbukaan itu pula adat resam Melayu menjadi kaya dengan variasi, sarat dengan simbol (lambang) dan falsafah. Kekayaan khazanah nilai itu dapat disemak antara lain dari keberagamaan alat dan kelengkapan upacara adat, dari alat dan kelengkapan pakaian pakaian adat, dari bentuk dan ragam hias rumah, dari alat dan kelengkapan rumahtangga, dari upacara-upacara adat dan tradisi, dari ungkapan-ungkapan adat (pepatah petitih, bidal, ibarat, perumpamaan, pantun, gurindam, seloka, syair dll), yang mereka warisi turun temurun. Kerenanya, tidaklah berlebihan bila ada yang berpendapat, bahawa khazanah budaya Melayu merupakan “ samudera budaya dunia”, sebab di dalam budaya Melayu memang terdapat berbagai unsur budaya dunia. Dengan sifat keterbukaan itu pula budaya Melayu mampu menyerap beragam unsur budaya luar, sehingga memperkaya khasanah budaya Melayu itu sendiri.

Dengan bismillah membuka kata
Memuja memuji  Tuhan  semesta
Rahman dan rahim  tiada hingga
Rahmat melimpah tiada terkira

Selawat dan salam kepada Muhammad
Rasul penutup pembawa rahmat
Sunnahnya mulia wajib diingat
Supaya sejahtera dunia akhirat

Wahai segala tuan dan puan
Para jemputan yang kami muliakan
Niat memberi gelar kehormatan
Kepada Tuan Paduka Sultan


Dari sisi lain, keterbukaan budaya Melayu tidaklah bermakna “terdedah tanpa penapis”, sebab adat istiadat Melayu menjadi salah satu penapis utama dari masuknya unsur-unsur negatif budaya luar. Nilai-nilai adat yang Islami itulah yang senantiasa menyaring dan memilah setiap unsur budaya luar yang masuk. Unsur yang baik mereka serap dengan kearifan yang tinggi, sedangkan yang buruk mereka buang dan jauhkan.
 

Gelar diberi mengandung makna
Sri Amanah Dwi Wangsa
Lambang persaudaraan Melayu-Jawa
Dua suku bersatu bangsa

Apabila gelar sudah melekat
Tali saudara semakin kuat
Hidup rukun sentosa rakyat
Seiya sekata jauh dan dekat

         Sekarang, peranan adat nampaknya tidak lagi sekental dahulu, sehingga fungsi penapisnya juga turut luntur dan melemah. Akibatnya, di dalam masyarakat Melayu kini, banyak sudah unsur-unsur negatif budaya luar yang masuk dan merebak ke dalam masyarakat Melayu, terutama melanda generasi mudanya. Perkara sebegini dengan mudah dapat di semak, antara lain dari berkembangnya kemaksiatan (prostitusi, perjudian, minuman keras, maksiat, tindakan kejahatan dll), yang menjangkau sampai kepelosok-pelosok perkampungan Melayu.


Ya Allah Malikul Rahman
Tunjukkan kami pada kebenaran
Silang sengketa mohon jauhkan
Hidup sejahtera sepanjang zaman

Ya Allah  Maha Pemurah
Kepada Engkau kami menyembah
Memohon rahmat serta hidayah
Rakyat sejahtera Melayu bertuah

Sampai di sini syair pun tamat
Semoga terkabul segala niat
Salah dibuang baik diingat
Supaya kita beroleh rahmat


        



         Selain itu, karena menurunnya wibawa adat, menyebabkan terjadi semacam “krisis akhlak”, sehingga banyak sudah anggota masyarakat adat Melayu yang tidak lagi berperilaku sebagai “orang beradat”, tetapi berubah menjadi “orang yang emosional”, menjadi orang yang “kasar langgar”, menjadi orang yang “kehilangan sopan santun”, menjadi orang yang “bangga dengan hujat menhujat”, menjadi orang yang “berburuk sangka”, menjadi orang yang hidup “nafsu nafsi”, menjadi orang yang “mau menang sendiri”, menjadi orang yang mementingkan diri sendiri atau kelompoknya semata dan sebagainya.

         Keadaan ini tentulah sangat patut dan layak untuk disemak dan diredam, agar tidak terus menerus merebak merosakan tatanan kehidupan masyarakat Melayu yang beradat dan Islami.

4 comments:

* OZIE MAHSA said...

Saya bangga menjadi anak melayu dan berasa bertuah berada di bumi malaysia ini.. Alhamdulillah

Fidah Shah said...

Tak Melayu Hilang Di Dunia...

zaiman Z said...

Alhamdulillah...

mim lam alif ya wau penuh dengan makna yg tersirat di sebalik nama dan bangsa...

Begitulah melayu yg menjunjung perintah Allah swt yakni melayu yg tak akan hilang di dunia seandainya dia memegang kuat akan agamanya berlandaskan sunnah Rasulullah SAW dan sekiranya dia meninggalkan amanah agama Muhammad maka jadilah la seorang yang layu di penghujung dunia... (akhirah zaman)

Mim (Muhammad yakni sunnah Rasul)
Lam Alif (la ilaha illallah yakni menjunjung akan kalimah tauhid)
ya wau (yaumul akhirah yakni berwawasan akhirat)

jika meninggalkan salah satunya maka tidak sempurnalah akan agamanya

NUR SYUHADA said...

Ya betul tu..z.zaiman zaman sekarang pendekatan pada kesusterawan melayu sangat kurang.yang hanya ada di terapkan di tempat pengajian tapi keadaan luar aktiviti sangat kurang..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...