facebook

facebook

Mari beri sokongan

17.9.13

Kisah 2 Petani dalam Surah Al-Kahfi



Pada kesempatan ini, akan disebutkan kisah petani yang disebutkan dalam kitab Al-Qur’an. Sesungguhnya dalam kitab suci kaum muslimin ini banyak disebutkan kisah-kisah orang-orang terdahulu sebelum kedatangan islam yang banyak mengandung pelajaran bagi mereka yang mahu berIman yang senantiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an. Sepertimana Allah berfirman:

“Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Yusuf : 111).

Adapun kisah pemilik dua kebun ini disebutkan Alloh dalam surat Al-Kahfi Ayat 32 sampai ayat 44. Allah berfirman:

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang diantara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan diantara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
(QS. 18:32).

Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,” (QS. 18:33).

dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia:”Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”. (QS. 18:34). Dan dia memasuki kebunnya sedang ia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata:”Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (QS. 18:35).

dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”. (QS. 18:36).

Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya :”Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna (QS. 18:37).

Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Rabbku. (QS. 18:38).

Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, (QS. 18:39).

maka mudah-mudahan Rabbku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petit) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; (QS. 18:40).

 atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. (QS. 18:41).

 Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata:”Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Rabbku”. (QS. 18:42).

 Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya, (QS. 18:43).

 Disana pertolongan itu hanya dari Allah yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan. (QS. 18:44).

Kisah tentang kedua orang yang tersebut dalam ayat di atas mempunyai berbagai versi sebagaimana yang disebutkan oleh ulama-ulama tafsir. Mereka berselisih tentang siapakah kedua orang yang disebutkan dalam ayat tersebut. Adapun yang akan disebutkan disini ada 2 versi yang diambil dari tafsir Al-Imam Al-Qurthuby rohimahullah yaitu:

 Kisah 2 Petani

Nama yang mukmin adalah Tamlikh dan yang kafir adalah Qurthusy. Dulunya keduanya adalah orang yang bekerjasama dalam suatu bisnis, kemudian mereka membagi hartanya menjadi dua, masing-masing mereka mendapat 3000 dinar.

Si mukmin membelanjakan hartanya tersebut dengan rincian: 1000 dinar yang pertama dibelanjakan untuk membeli budak yang kemudian dia merdekakan, 1000 dinar yang kedua dibelanjakan untuk membeli pakaian yang dia berikan pada orang-orang yang tidak mempunyai pakaian (tuna sandang) dan 1000 dinar yang ketiga dibelanjakan untuk membeli makanan untuk orang-orang yang kelaparan, membangun masjid dan kegiatan-kegiatan kebajikan lainnya.

Sedangkan si kafir menggunakan uangnya untuk menikah, membeli ternak dan sapi. Kemudian hewan ternak dan sapinya berkembang biak menjadi banyak dan melimpah. Sehingga dia menjadi termasuk orang-orang kaya pada zamannya yang mempunyai harta melimpah.

Pada suatu waktu si mukmin tersepit sehingga dia ingin bekerja di kebun si kafir, seraya berkata, “ Sekiranya aku pergi pada rekan perniagaanku dulu itu, dan aku minta dipekerjakan pada salah satu kebunnya tentunya itu lebih baik buat keadaanku dan aku dapat memenuhi keperluanku.” Kemudian dia mendatangi si kafir, hampir-hampir si mukmin tidak dapat menemuinya karena kawalan yang ketat dan banyaknya pengawalnya. Maka tatkala si mukmin ini masuk menemuinya dan mengutarakan maksudnya,kemudian terjadi dialog diantara mereka berdua:

Si kafir malah berkata, “Bukankah harta kita telah dibagi menjadi dua bahagian? Lantas untuk apa saja kau gunakan harta dari bahagianmu?!.”

Si mukmin menjawab, “Aku telah membeli dari Allah apa yang lebih baik dan lebih kekal dengan bahagianku itu.”

Si kafir berkata, “Aku tidak percaya kiamat itu akan terjadi, tidaklah aku melihatmu melainkan orang yang bodoh! Dan tidaklah balasan bagi orang yang bodoh kecuali tidak dikabulkan permintaannya.”

Si kafir melanjutkan, “Tidak kah kamu melihat apa yang aku lakukan dengan hartaku sehingga menjadi orang yang kaya dan mempunyai keadaan yang baik? Itu semua karena semata-mata karena usahaku, sedangkan kamu telah melakukan hal yang bodoh. Maka menyingkirlah dari hadapanku!.”

Kemudian akhir kisah si kafir yang kaya tersebut sebagaimana disebutkan Allah dalam surat Al-Kahfi yaitu rusaknya semua tanamannya dan lenyap pula semua hartanya.

1 comment:

Mizz Aiza (Dunia Kecil) said...

semoga kita semua mengambil ikhtibar dari kisah ini..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...