facebook

facebook

Mari beri sokongan

11.8.13

Perlakuan 'Thumbs Up'

   Imam Al Ghazali mendefinasikan nikmat itu sebagai: setiap kebaikan, kelazatan dan kebahagiaan serta setiap kebahagiaan hidup 'ukhrawi' - hari akhirat yang kekal abadi.'

Secara umumnya, nikmat kurniaan Allah kepada setiap orang manusia dapat dibahagikan kepada dua iaitu:
 

Nikmat bersifat 'fitri' atau asasi iaitu nikmat yang dibawa oleh manusia ketika dilahirkan lagi.
 

Nikmat mendatang iaitu nikmat yang diterima dan dirasakan sewaktu-waktu.

Nikmat bersifat fitri atau asasi itu digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya bermaksud:

"Dan Tuhan melahirkan kamu dari perut ibumu tanpa mengetahui apa-apa pun. Dan (kemudian) diberinya kamu pendengaran, penglihatan dan hati supaya kamu bersyukur - berterima kasih." - (Surah an-Nahl, ayat 78)


 Perlakuan penghargaan seperti 'thumbs up' dari seseorang, adalah simbol penghormatan, pujian,  kekaguman,  rasa suka, simpati, dan dukungan yang membuat kita semakin percaya diri akan sebuah karya atau keberadaan kita sendiri.



Perlakuan seperti ini biasanya memotivasi diri kita untuk berbuat lebih baik lagi, memperkuat tali silaturahim, menambah ikatan emosional hubungan persahabtan. Namun di balik itu perlakuan penghargaan ini merupakan senjata pembunuh yang efektif mematikan kekuatan seseorang, kreativiti dalam berkarya, menghentikan proses meraih prestasi terbaik dalam banyak hal.

Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaitan pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah)

 Dalam hal ini Baginda Rasulullah saw telah memperingatkan dalam hadisnya :
- Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli.” (HR. Ad-Dailami).
- “Bila kamu melihat orang-orang yang sedang memuji-muji dan menyanjung-nyanjung maka taburkanlah pasir ke wajah-wajah mereka.” (HR. Ahmad)

- Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

 ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً “
 
Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian keadaannya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui keadaan sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]

Sanjungan ibu jari memang lezat untuk dinikmati jiwa. Terlena oleh dek kekaguman, penghormatan dan puji puja. Tentangan besar di depan mata jadi terlupa. Duduk manis dengan senyum manis tak menyadari bahaya yang akan datang tiba-tiba. Lalailah jiwa, hilanglah waspada.

Betapa banyak pujian membuat seseorang kehilangan inspirasi dan intuisi, motivasi dan prestasi, terbunuh oleh musuh-musuh yang senantiasa siaga menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan atas kekalahan mereka pada awal pertempuran. Dan waktu yang tepat untuk menghancurkan adalah ketika lawan sedang berhenti, beristirahat, tidur atau terlena dalam pesta pora sebelum waktunya.

Sebagaimana orang bijak berkata,” Bersyukurlah untuk sebuah tamparan yang panas menyengat, sebab itu suatu pertanda bahwa kita masih punya indera perasa, dan membuat jiwa yang tidur menjadi terjaga. Dan waspadalah dengan belaian penuh kelembutan, sebab itu membuat jiwa tertidur dan terlena,lalai terhadap bahaya yang bisa datang secara tiba- tiba…!



Pada akhirnya semua tergantung pada niat si pelaku menaikkan ibu jari, apakah dia penuh ketulusan mengekspresikan penghargaan dan rasa suka, memperkuat konfidensi, memotivasi semangat berprestasi atau menjerumuskan lawan dengan menyembunyikan sesuatu di balik kepalan tangan. Dan juga tergantung pada penyikapan si penerima 'thumbs up' apakah dia tertipu dengannya, ataukah justeru mampu menjadikannya sebagai bentuk dukungan yang memperkuat semangat untuk meraih hasil lebih sempurna…!!!

Doa yang Diucapkan Ketika Dipuji Orang Lain

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Shidiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau–radhiyallahu ‘anhu- pun berdo’a,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ 
 
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.
 
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah

Apa yang dirisaukan adalah kesudahannya atau pengakhiran pemuji dan yg dipuji akan jatuh ke lembah  yang menghancurkan sekiranya tidak berhati-hati dalam memulangkan segala pujian kepada yang berhak dipuji. Sepertimana Allah swt berfirman :-

"Jika kamu bersyukur maka Aku (Tuhan) akan menambah (nikmat) itu kepada kamu. Dan jika kamu kufur maka sesungguhnya seksa Aku amat pedih." - (Surah Ibrahim, ayat 7)
Sesungguhnya bersyukur kepada Allah adalah perbuatan wajib ke atas setiap manusia. Ini jelas daripada firman-Nya bermaksud:-

"Syukurlah terhadap nikmat Allah jika kamu sungguh-sungguh menyembah kepada Nya." - (Surah an-Nahl, ayat 144)

Lawan syukur ialah kufur. Seseorang yang menggunakan nikmat ini pada tempat bertentangan dengan tujuan penciptaannya, maka sebenarnya mengkufuri nikmat Allah yang menganugerahkan nikmat itu kepadanya.


Sedar akan pentingnya sikap ini, maka syukurilah nikmat kurniaan Allah kepada kita baik nikmat lahir atau batin.

Mudah-mudahan dengan berbuat demikian, maka nikmat itu akan kekal berterusan bersama kita dan hidup kita pula akan mendapat keredaan Allah baik di dunia atau akhirat. 


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...