facebook

facebook

Mari beri sokongan

9.6.13

Amigdala Sebagai Kawalan Emosi


Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati." (HR. Bukhari)

 Amigdala berasal dari bahasa latin amygdalae (bahasa Yunani αμυγδαλή, amygdalē, almond, 'amandel') adalah sekelompok saraf yang berbentuk kacang almond. Amigdala dipercayai merupakan bahagian otak yang berperanan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi. Jika kita tidak mampu mengendalikan sekerat daging yang sebesar biji almond ini bisa merusak seluruh tubuh yaitu amigdala.

Ketika mata melihat makanan maka akan muncul perasaan ingin memakannya tapi saat kita melihat semut kita diam saja. Jadi dari peristiwa itu signal yang ditangkap oleh mata akan tersalurkan ke 2 tempat yaitu amigdala dan bagian otak prosedural. Amigdala akan mengeluarkan reaksi emosi terhadap data yang didapatnya.

Apabila amigdala ini telah diisi dengan memory emosional terhadap suatu kejadian atau benda maka dia akan mengeluarkan reaksi tapi jika tidak dia tidak akan mengeluarkan reaksi. Pusat pengolahan data di otak akan mengisi data baru atau membiarkan data tersebut yang akan berpengaruh pada amigdala. Seorang anak kecil berusia 2 tahun telah memiliki amigdala secara sempurna sehingga reaksi emosional anak usia 2 tahun sama dengan orang dewasa. Peranan orang tua yang harus mengisi memory anak dengan menjadikan anak sebagai dirinya sendiri dan penyembah - penyembah Allah sejati.


Amigdala bekerja dengan sangat cepat dalam mengevaluasi suatu bahaya atau ancaman, dan menentukan hal yang dianggap terbaik. Hasil informasi yang di olah dalam amigdala kemudian diambil alih atau diteruskan oleh hasil analisis yang lebih akurat yang dihasilkan oleh cortex cerebri. Hal ini menjelaskan mengapa kita rasa terkejut ketika ada tangan yang menepuk pinggang kita, ketika kita sedang berjalan was-was disebuah jalan yang gelap. Rasa takut itu menghilang setelah cortex mengenali bahwa tangan yang menepuk pinggang kita tersebut adalah tangan salah satu teman kita.
Kerosakan pada amigdala atau area-area kritis pada neokorteks dapat menyebabkan abnormaliti pada kemampuan memproses rasa takut. Seekor tikus yang mengalami kerosakan pada amigdala “lupa” untuk merasa takut bilamana ia seharusnya menjadi takut, dan sepertinya tikus tidak mampu memiliki rasa takut, walaupun dikondisikan. 
 Ibnu Umar berkata, "Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat takwa yang sebenarnya kecuali ia dapat meninggalkan apa saja yang dirasa tidak baik dalam hati."

Columbia University State pernah melakukan penelitian tentang otak. Ternyata, di otak terdapat sebuah bagian yang tidak teraliri darah. Tapi, bagian tersebut dapat teraliri darah bila kita melakukan gerakan khusus seperti sujud yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Walaupun tidak menyebutkan secara gamblang tentang waktu-waktu tersebut, tapi waktu-waktu tersebut berada sekitar Solat Lima Waktu yang kita (Umat Islam) lakukan setiap hari. Efek dari teralirnya bahagian dari otak tersebut adalah dapat membuat kerja otak menjadi maksimal. Sehingga, kemampuan otak dalam bekerja (seperti, menghitung, menghafal, belajar dan lain-lain) akan lebih baik dan tentunya menambah kecerdasan otak kita.

Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan Solat, maka otaknya tidak akan dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Dengan demikian, kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menjadi Umat Islam 'sejati' kerana sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agama-Nya yang indah ini.


"Sesungguhnya solat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (Surah Al-Ankabut ayat:45) 

# sumber

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...