facebook

facebook

Mari beri sokongan

30.11.11

'Oral Sex' . Budaya Siapa?




Salam semua, ok ye segmen kali ni adelah utk 18sg bagi yg dah berkawen, artikel sekadar perbincangan dan tiada hukum menghukum, kalo di rasakan baik, boleh di ambil sebagai pengajaran dan kalo sebaliknya ,mintelah di jauhkan.....

Al-kisahnya adalah mengenai 'Oral Sex', apakah pandangan di dalam Islam, adakah ianya merupakan cara hidup Islam atau sebaliknya, so kita same-same la fikir-fikirkan....

Berkat kebesaran Allah, setiap bahagian tubuh manusia memiliki kepekaan dan rasa yang berbeda saat disentuh atau dipandangi. Maka, untuk menambah berahi jima’, suami isteri juga diperbolehkan pula menanggalkan seluruh pakaiannya. Dari Aisyah RA, ia menceritakan, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seelok-eloknya suami isteri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan ghairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami isteri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal ketika berjima’.

Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami istri, yaitu posisi bersetubuh. Kebetulan Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada penganutnya untuk mencuba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang diatur syariat iyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu faraj (vagina). Bukan yang lainnya. Allah SWT berfirman, “Isteri-isterimu adalah tempat bercucok tanammu, datangilah ia dari arah manapun yang kalian kehendaki.” QS. Al-Baqarah (2:223).

Hubungan seks yang baik dan benar, yang tidak melanggar syariat selain merupakan puncak keharmonian suami isteri serta penguat perasaan cinta dan kasih sayang di antara mereka berdua maka ia juga termasuk suatu ibadah disisi Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”..dan bersetubuh dengan isteri juga sedekah. Mereka bertanya,’Wahai Rasulullah, apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (bersetubuh) juga mendapat pahala?’ Beliau menjawab,’Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa?, maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Diantara variasi seksual yang sering dibicarakan para seksologi adalah oral seks, yaitu adanya kontak seksual antara kemaluan dan mulut (lidah) pasangannya. Tentunya ada bermacam-macam oral seks ini, dari mulai menyentuh, mencium hingga menelan kemaluan pasangannya kedalam mulutnya.

Di bolehkan bagi setiap pasangan suami isteri untuk saling melihat seluruh tubuh dari pasangannya serta menyentuhnya hingga kemaluannya sebagaimana diriwayatkan dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari bapa saudaranya berkata,” Aku bertanya,’Wahai Rasulullah aurat-aurat kami mana yang tutup dan mana yang kami biarkan? Beliau bersabda,’Jagalah aurat kamu kecuali terhadap isterimu dan budak perempuanmu.” (HR. tirmidzi, dia berkata,”Ini hadits Hasan Shohih. "Karena kemaluan boleh untuk dinikmati maka ia boleh pula dilihat dan disentuhnya seperti bahagian tubuh yang lainnya.

Dan dimakruhkan untuk melihat kemaluannya sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah yang berkata,”Aku tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah saw.” (HR. Ibnu Majah) dalam lafazh yang lain, Aisyah menyebutkan : Aku tidak melihat kemaluan Rasulullah saw dan beliau saw tidak memperlihatkannya kepadaku.”

Didalam riwayat Ja’far bin Muhammad tentang perempuan yang duduk dihadapan suaminya, di dalam rumahnya dengan menampakkan auratnya yang hanya mengenakan pakaian tipis, Imam Ahmad mengatakan,”Tidak mengapa.” (al Mughni juz XV hal 79, maktabah Syamilah)

Hal itu di sebabkan yang keluar dari kemaluan adalah madzi dan mani. Madzi adalah cairan berwarna putih dan halus yang keluar dari kemaluan ketika adanya ketegangan syahwat, hukumnya najis. Sedangkan mani adalah cairan kental memancar yang keluar dari kemaluan ketika syahwatnya memuncak, hukumnya menurut para ulama madzhab Hanafi dan Maliki adalah najis sedangkan menurut para ulama Syafi’i dan Hambali adalah suci.

Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi berpendapat bahwa isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral seks) adalah haram di sebabkan kemaluannya itu bisa memancarkan cairan (madzi). Para ulama telah bersepakat bahwa madzi adalah najis. Jika ia masuk kedalam mulutnya dan tertelan sampai ke perut maka akan dapat menyebabkan penyakit.

1 comment:

GKA said...

erkkk...GKA tak kawen silap baca la plak

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...