facebook

facebook

Mari beri sokongan

20.2.11

ABU NAWAS bersama anak muridnya





Abu Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tidak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.

Di antara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu.

Suatu ketika ada tiga orang tetamunya bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama.

Orang pertama memulai pertanyaannya,
"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?"
"Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil." jawab Abu Nawas.
"Mengapa?" kata orang pertama.
"Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan:" kata Abu Nawas.
Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu.

Orang kedua datang bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?"
"Orang yang tidak mengerjakan keduanya." jawab Abu Nawas.
"Mengapa?" kata orang kedua.
"Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan." kata Abu Nawas. Orang kedua juge berpuas hati dengan jawapan Abu Nawas.


Kemudian orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?"
"Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar." jawab Abu Nawas.
"Mengapa?" kata orang ketiga.
"Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu." Jawab Abu Nawas. Orang ketiga juga dapat menerima alasan Abu Nawas.

Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.
Tetapi di sebabkan maseh belum mengerti, seorang murid Abu Nawas bertanya lagi.

"Mengapa dengan pertanyaan yang sama menghasilkan jawapan yang berbeda?"

"Manusia dibahagikan kepada tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati."

"Apakah tingkatan mata itu?" tanya murid Abu Nawas. Lalu di jawablah Abu Nawas "Anak kecil yang melihat bintang di langit. Ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata." jawab Abu Nawas mengandaikan.

"Apakah tingkatan otak itu?" tanya murid Abu Nawas. "Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan." jawab Abu Nawas.


"Lalu apakah tingkatan hati itu?" tanya murid Abu Nawas. "Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan KeMaha-Besaran Allah."

Kini barulah murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama menghasilkan jawabpan yang berbeda.

Lalu Ia bertanya lagi.
"Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?"
"Mungkin." jawab Abu Nawas.

"Bagaimana caranya?" tanya murid Abu Nawas ingin tahu.
"sambil merayu-Nya melalui pujian dan doa." kata Abu Nawas "Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru." pinta murid Abu Nawas.

"Doa itu adalah : llahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa 'alan-naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil `adhimi.

Sedangkan arti doa itu adalah : Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.

Kesimpulannya ialah tingkatan pemikiran seseorang berbeza mengikut amalan ketaqwaannya terhadap Allah s.w.t.Semoga kisah ini dapat menjadi teladan dan pedoman buat kita semua.

1 comment:

Gimi said...

Selalu baca cite abu nawas kat library sebab buku tu paling nipis..
baru tahu kisah ni..nice info

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...